Top ↑ | Archive | Ask me anything | Submit

Farewell

Cikarang, 15 April 2014. Hari ini tak kuasa membendung air yang memenuh di kelopak mata. Disaat semua undangan berbahagia untuk acara farewell ini, justru seballiknya dengan apa yang saya rasakan. Manajerku hari ini resmi resign dari perusahaan yang kami naungi. Bukan karena perpisahannya. Karena seharusnya saya berbahagia beliau meneruskan karier di tempat yang baru. Tapi karena ketidakpastian yang menuntutku untuk berdiri sendiri menentukan langkah setelah beliau resign. Status copacker yang seharusnya diputus kontrak pun harus diperjuangkan sendiri, tanpa atasan yang menjadi tameng keputusan bos-bos besar yang tidak bisa menghargai prosedur. Ketidakjelasan jobdes, jabatan yang sangat menuntut kami untuk melapangkan kesabaran hingga batas tak terhingga. Sebetulnya saya menghindar untuk membicarakan masalah ini disaat farewell ini. Karena jawabannya sudah jelas, belum ada kabar bahagia dari pihak HRD. Kejelasan sampai kapan seperti ini tidak ada lagi yang peduli, kecuali diri kami sendiri. Sebenarnya bukan karena hak pesangon yang kami inginkan, namun kejelasan nasib kedepan. Andaikata HRD memang tidak berkenan dengan permintaan kami, setidaknya ada posisi yang jelas untuk kami. Bukan menggantung tidak jelas. Sehari-hari hanya bisa membantu pekerjaan orang lain, tempat duduk pun dipindah-pindah tidak jelas dan akhirnya numpang di laboratorium. Diburu-buru cari kosan karena katanya guesthouse akan ada yang menempati, padahal kenyataannya tidak ada, tetap kosong setelah kami pindah. Sepatu safety pun harus dikirim dulu dari copack karena hilang. Tamu tetaplah tamu. Serasa tidak diharapkan disini. Berkali-kali manajer kami bernegosiasi dengan HRD yang berlangsung alot, masih tidak ada hasil yang menggembirakan.Hanya bisa menangis di depan beliau. Tidak mampu untuk lisan ini berucap. Bingung. Sungguh bingung harus berbuat apa. Harus kemana untuk mengadu ketidak adilan ini. Ke direktur langsung, serasa beliau belum menyempatkan menoleh untuk keberadaaan kami yang tidak jelas ini. Seperti anak panah yang tak tau arah mau kemana akan menuju.

"Perpisahan, adalah bukti nyata bahwa manusia tak semuanya memiliki kesabaran yang tiada batasnya. Namun beberapa orang memilih tak membatasi kesabarannya karena sadar didepan ada sebuah perpisahan"

- Fauzan Arif (via fauzan-arif)

takepart:

You better believe it!

Find out why here.

[via]

"Allahumma ya ALLAH tanamkan di hati kami perasaan selalu rindu kepada-Mu, ingatkanlah selalu kami tentang dahsyatnya hari akhirat-Mu agar hamba tidak tertipu dengan kesenangan dunia sesaat ini, ya ALLAH, ya Tuhan kami, Penguasa hati kami, tetapkanlah hati kami dalam taqwa dan istiqomah agar tetap dijalan-Mu sampai akhir hayat nanti… Aamiin ya Rabbal’alamin"